A. Pengertian Anamnesa
Anamnesa adalah
suatu cara mengumpulkan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung
dari sumbernya. Informasi ini digunakan dalam proses membuat keputusan klinik
untuk menentukan diagnosis dan mengembangkan rencana asuhan yang sesuai
(Indrayani & Djami, 2016).
B. Prinsip
Anamnesa/ Pengkajian
Riwayat Kesehatan
1. Perkenalkan diri anda sendiri dan
jelaskan apa yang anda lakukan dan tujuan anda melakukannya.
2.
Observasi peraturan dalam wawancara:
a.
Gunakan pertanyaan terbuka, bukan
pertanyaan tertutup.
b.
Anjurkan hanya satu pertanyaan dalam
satu waktu
c. Hindari mengarahkan pertanyaan atau
mengajukan pertanyaan yang “berisi jawaban yang dapat diulang oleh wanita
tersebut”
d.
Klarifikasi arti prilaku wanita bagi
wanita tersebut
e.
Gunakan istilah yang mengerti wanita
tersebut
3. Bersikaplah
bijaksana dan menghargai hak-hak wanita untu mempertahankan privasi tentang
pribadi dan kehidupannya setiap waktu.
4. Dengarkan
wanita tersebut dengan penuh perhatian dan penghargaan dan tanggapi apapun yang
ia katakan. Sebagi contoh, jika ia bicarakan masa-masa sulit dalam kehidupanya,
maka respon yang memperlihatkan rasa simpatik akan merupakan tindakan yang
tepat.
5. Bersikap
responsif ketika meminta klarifikasi tentang suatu informasi.
6. Upayakan
tepat, seksama, dan akurat dalam mendapatkan semua data yang penting.
7. Pada
saat mengkaji riwayat, pertahankan konsetrasi terfokus sehingga tidak membuang
waktu untuk pertanyaan yang tidak perlu.
8. Lakukan
skrining dan tidak perlu mencatat informasi yang relevan.
9. Beri
wanita tersebut kesempatan menjawab pertanyaan hindari menyela kecuali ia mulai
memberi jawaban yang tidak sesuai atau ketika anda membutuhkan penjelasan atas
jawabanya.
10. Dengarkan
wanita tersebut dengan cermat. Kemungkinan ia memberi jawaban yang seharusnya
diberikan pada pertanyaan selanjutnya. Dalam hal ini, jangan ulangi pertanyaan
tersebut. Upayakan juga untuk tidak membuatnya mengulangi apa yang baru
dikatakan hanya karna anda tidak mendengarkan dengan seksama.
11. Kaji
lagi respon yang tidak jelas, informasi yang berhubungan, atau informasi
terkait yang tidak langsung yang tidak berkaitan dengan pertanyaan yang baru diajukan.
12. Pastikan
anda mengerti yang dikatakan wanita tersebut. Gaya bicara dan ekspresi wajah
seseorang dapat berbeda dari satu daerah dengan daerah yang lainnya. Jangan
ragu-ragu meminta tersebut mengeja atau menjelaskan kata-kata yang ia gunakan.
13. Jangan
memerlihatkan ekspresi negatif lewat ekspresi wajah, bahasa tubuh, atau penekanan
nada bicara.
14. Sediakan
seluas mungkin privasi supaya pembicaraan tidak terdengar orang lain.
15. Berbicara
dengan nada bicara yang jelas, lembut dan tidak terburu-buru.
16. Pertahanan
kontak mata hindari selalu membaca formulir pertanyaan, hindari mencatat,
menggambar grafik.
17. Jangan
ajukan pertanyaan sampai anda dapat menjelaskan alasan anda menanyakan hal
tersebut. Seorang wanita dapat menganggap informasi yang berkenaan dengan aspek
sosial, hubungan seksual, ekonomi, pendidikan, pekerjaan, dan tempat tinggal
sebagai hal yang sangat pribadi. Tidak semua informasi yang didapat dari area
ini merupakan informasi yang penting. Anda harus mendapatkan informasi hanya
bila ada tujuannya karna bila sebaliknya, wanita tersebut dapat menganggap pertanyaan
anda mengusik kehidupan pribadinya sehingga ia akan bereaksi terhadap
pertanyaan anda ) (Varney,
Kriebs, & Gegor, 2007).
C. Prinsip Komunikasi Efektif dalam
Anamnesa pada Ibu Bersalin
1. Wawancara.
Langkah pertama untuk menyusun data dasar adalah dengan wawancarai klien.
Wawancara adalah pola komunikasi yang dilakukan umtuk tujuan spesifik. Jenis
teknik wawancara seperti :
a. Teknik
mencari masalah. Wawancara mencari masalah mengindentifikasi masalah dan
pengumpulan data dan selanjutnya difokuskan pada masalah tersebut. Contoh
perawat menanyakan pada klien tentang perubahan yang dialami dalam pencernaan
seperti kurang nafsu makan, mual, muntah dan diare.
b. Teknik
pemecahan masalah. Difokuskan pada pengumpulan data yang lebih mendalam pada
masalah spesifik yang diindentifikasi oelh klien atau perawat. Contoh jika
klien melaporkan bahwa muntah telah dialami dalam 2 hari, perawat menanyakan
apa pencetus muntah pertama kalinya apakah klien mengalami gejala lain apakah
terjadi setiap kali klien makan atau minum dan bagaimana karakteristik muntah.
c. Teknik
pertanyaan langsung. Wawancara pertanyaan langsung adalah format terstruktur
yang membutuhkan jawaban satu atau dua kata dan sering kali digunakan untuk
mengklarifikasi informasi sebelumnya, sebagai contoh “apakah anda mengalami
nyeri ketika muntah ?” adalah suatu pertanyaan langsung.
d. Teknik
pertanyaan terbuka. Pewancara pertanyan terbuka
ditujukan untuk mendapatkan respon lebih dari satu atau dua kata. Contohnya
seperti :
1) “
perawatan kesehatan apa yang anda butuhkan ?”
2) “
bagaimana perasaan anda ?
3) “ceritakan
pada saya apa makna kedatangan kerumah sakit bagi anda?
2. Diam. Membantu
dalam membuat observasi dan memberi klien waktu untuk menyusun pikiran dan
memberikan informasi lengkap
3. Mendengar dengar perhatian berarti minat pada
kebutuhan, kekhawatiran, dan masalah klien.
Aktifitas mendengar ini
dapat difasilitasi dengan mempertahankan kontak mata, tetap rileks, dan
menggunakan teknik sentuhan yang tepat.
4. Menunjukkan penerimaan berarti menunjukkan pewawancara
untuk mendengar keyakinan, nilai, dan praktik kesehatan tanpa menghakimi.
5. Pertanyaan yang berkaitan harus direncanakan. Ketika mengajukan
pertanyaan ini, perawat menggunakan kata-kata dan pola kata dalam konteks
sosial budaya normal klien.
6. Mem-parafrase. Memberi kesempatan untuk pewawancara
memvalidasi informasi dari klien tanpa mengubah makna pernyataan. Paraphrase
adalah rumusan pewawancara tentang apa yang telah dikatakan klien dalam kata
yang lebih spesifik.
7. Mengklarifikasi. Memudahkan komunikasi
informasi yang kuat benar
8. Berfokus menghilangkan keraguan dalam komunikasi,
membatasi area diskusi, dan membantu pewawancara mengarahkan perhatian pada
aspek tertentu dari pesan klien.
9. Menyertakan observasi memberi klien umpan balik
tentang bagaimana pewawancara mengobservasi, tindakan, ekspresi wajah, atau
aktifitas.
10. Memberikan informasi memungkinkan pewawancara untuk
memperjelas tindakan, memulai penyuluhan kesehatan, dan mengidentifikasi dan
memperbaiki kesalahan konsep.
11.Meringkas berarti mencarikan data ke dalam tinjauan
yang teratur. Aktifitas ini memvalidasi data pada klien mempunyai kesempatan
untuk memastikan bahwa data tersebut benar. Ringkasan mengindikasikan akhir
dari bagian wawancara tertentu. (Potter & Perry, 2005).
D. Mengidentifikasi
informasi
1. Nama. Selain sebagai identitas, upayakan bidan agar
memanggil dengan nama panggilan sehingga hubungan komunikasi antara bidan dan
pasien menjadi lebih akrab.
2. Usia/tanggal
lahir. Data ini ditanyakan untuk menentukan apakah ibu dalam persalinan
berisiko karena usia atau tidak.
3. Agama.
Sebagai dasar bidan dalam memberikan dukungan mental dan spiritual terhadap
pasien dan keluarga sebelum dan pada saat persalinan.
4. Pendidikan
terakhir. Tingkat pendidikan ini akan sangat mempengaruhi daya tangkap dan
tanggap pasien terhadap instruksi yang diberikan bidan dalam proses persalinan.
5. Pekerjaan.
Data ini menggambarkan tingkat social ekonomi, pola sosialisasi, dan data
pendukung dalam menentukan pola komunikasi yang akan dipilih dalam asuhan.
6. Suku/bangsa.
Data ini berhubungan dengan social budaya yang dianut oleh pasien dan keluarga
yang berkaitan dengan persalinan.
7. Alamat. Selain sebagai data mengenai distribusi lokasi
pasien, data ini juga memberi gambaran mengenai jarak dan waktu yang ditempuh
pasien menuju lokasi persalinan. Ini mungkin berkaitan dengan keluhan terakhir,
atau tanda persalinan yang disampaikan dengan patokan saat terakhir sebelum
berangkat ke lokasi persalinan (Sulistyawati & Nugraheny, 2010).
8.
Keluhan
Umum.
Alasan wanita tersebut mengunjungi anda di klinik,
kantor, kamar gawat darurat, pusat pelayanan persalinan, rumah sakit, atau
rumahnya, seperti yang diungkapkan dengan kata-katanya sendiri (dapat
berhubungan dengan sistem tubuh). (Varney, Kriebs, & Gegor, 2007).
Pada kasus persalinan,
informasi yang harus didapat dari pasien adalah kapan mulai terasa ada kencang-kencang
diperut, bagaimana intensitas dan frekuensinya, apakah ada pengeluaran cairan
dari vagina yag berbeda dari air kemih, apakah sudah ada pengeluaran lendir
yang disertai darah, serta pergerakan janin untuk memastikan kesejahteraannya
(Sulistyawati &
Nugraheny, 2010).
9.
Riwayat
Penyakit Saat Ini
Jika ada suatu penyakit, perawat mengumpulkan data
yang penting dan berkaitan dengan awitan gejala. Perawat menentukan kapan
gejala mulai timbul, apakah gejala timbul secara mendadak atau bertahap, dan apakah gejala selalu timbul atau hilang
dan timbul. Perawat juga menanyakan tentang durasi gejala. Pada bagian tentang
riwayat penyakit saat ini, perawat mencatatkan informasi spesifik seperti, letak,
intensitas, dan kualitas gejala. Sebagai contoh, ketika klien menunjukan adanya
nyeri, perawat meminta klien untuk menunjukkan atau menggambarkan area tubuh
yang nyeri (Potter & Perry, 2005).
10. Riwayat Medis Terdahulu dan Perawatan Primer
Informasi
yang dikumpul tentang riwayat masa lalu memberikan data tentang pengalaman
perawatan kesehatan klien. Perawat mengkaji apakah klien pernah dirawat di
rumah sakit atau pernah menjalani operasi. Juga penting dalam merencanakan
asuhan keperawatan dalam deskripsi tentang alergi, termasuk reaksi alergi
terhadap makanan, obat-obatan, atau polutan. Perawat pimer berfokus pada
deteksi dini dan perawatan rutin. Sebagai contoh, pelayanan kesehatan primer
terdiri dari pemeriksaan fisik, tahunan, dan perawatan lanjutan yang dilakukan
secara rutin untuk klien yang diketahui mempunyai masalah kesehatan seperti
tekanan darah tinggi. (Potter & Perry, 2005).
11. Riwayat Keluarga
Tujuan
dari riwayat keluarga adalah untuk mendapatkan data tentang hubungan
kekeluargaan langsung dan hubungan darah. Sasarannya adalah untuk menentukan
apakah klien berisiko terhadap penyakit yang bersifat genetic atau familial dan
untuk mengindentifikasi area tentang promosi kesehatan dan pencegahan penyakit.
Riwayat keluarga juga memberikan informasi tentang struktur keluarga,
interaksi, dan fungsi yang mungkin berguna dalam merencanakan asuhan (Potter
& Perry, 2005).
12. Riwayat Menstruasi
Hal
yang perlu ditanyakan adalah menarche, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya
darah yang keluar, aliran darah yang keluar, menstruasi terakhir, adakah
dismenorhoe, gangguan sewaktu menstruasi (Metrorhagia, Menoraghia), gejala
premestrual (Sumiaty, 2013).
14. Riwayat Seksual
Data
yang kita perlukan berkaitan dengan aktifitas seksual adalah keluhan,
frekuensi, dan kapan terakhir melakukan hubungan seksual
(Sulistyawati &
Nugraheny, 2010).
15. Riwayat Obstetri
a. Gravida/Para (sistem penghitungan empat-atau-lima)
b. Tipe golongan darah Rh dan ABO
c. Pada setiap kehamilan (Tanggal kehamilan berakhir,
Minggu gestasi,
Tempat bersalin misalnya
rumah sakit (nama), pusat kelahiran anak (nama), rumah,
Lama persalinan) (Varney, Kriebs, & Gegor, 2007).
16. Riwayat
Ginekologi
Pengalaman yang berkaitan dengan
penyakit kandungan mencakup: infertilisasi, penyakit kelamin, tumor, atau
kanker sistem reproduksi, operasi ginekologis (Sumiaty, 2013).
17. Riwayat
Kontrasepsi
Bila ibu pernah mengikuti KB perlu
ditanyakan tentang jenis kontrasepsi, efek samping, alasan berhenti (bila tidak
memakai lagi), lamanya menggunakan alat kontrasepsi (Sumiaty, 2013).
18. Riwayat
Aktivitas
Kita
perlu mengkaji aktivitas sehari-hari pasien karena data ini memberikan gambaran
kita tentang beberapa berat aktivitas yang biasa dilakukan pasien di rumah.
Jika di akhir kehamilannya pasien melakukan aktivitas yang terlalu berat
dikhawatirkan pasien akan merasa kelelahan sampai akhirnya dapat menimbulkan
penyulit pada masa persalinan (Sulistyawati & Nugraheny, 2010).
19. Riwayat
Nutrisi dan eliminasi
Data
ini penting untuk diketahui untuk bisa mendapatkan gambaran bagaimana pasien
mencukupi asupan gizinya selama hamil sampai dengan masa awal persalinan. Data
fokus mengenai asupan makanan adalah sebagai berikut:
a.
Kapan
atau jam berapa terakhir kali makan dan minum
b.
Apa
yang dimakan dan diminum.
c.
Berapa
banyak makanan dan minuman yang dimakan dan diminum.
d.
Seandainya
saat ini ingin makan, apa yang ia
inginkan sebelum masuk dalam fase persalinan dimana ia tidak akan
mungkin atau tidak ingin lagi untuk makan
(Sulistyawati &
Nugraheny, 2010).
Selama proses persalinan, ibu akan mengalami poliuri
sehingga penting untuk memfasilitasi agar kebutuhan eliminasi dapat terpenuhi.
Jika ibu masih beradadalam awal kala I, ambulasi dengan berjalan seperti
aktivitas ke toilet akan membantu penurunan kepala janin. jika kondisi ibu
tidak memungkinkan untuk BAK dan BAB sendiri di toilet, maka tugas bidan atau
keluarga terdekat untuk memfasilitasinya, misalnya menggunakan pispot di tempat
tidur (Indrayani & Djami, 2016).
DAFTAR
PUSTAKA
1. Sulistyawati, Ari dan Nugraheny, Esti.
2012. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin.
Jakarta : Salemba Medika.
2. Varney, Helen dan Gegor, Carolyn L.
2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Edisi 4.
Volume 1. Jakarta : EGC
3. Indrayani dan Djami, Moudy E.U. 2016. Update Asuhan Persalinan dan Bayi Baru Lahir.
Jakarta: TIM
4. Sumiaty. 2013. Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru Lahir. Yogyakarta: Trans
Info Media
5. Potter dan
Perry.2005. Konsep, Proses, dan Praktik
Keperawatan. Jakarta: ECG.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar