Senin, 04 September 2017

ANAMNESA PADA IBU BERSALIN


A.    Pengertian Anamnesa
Anamnesa adalah suatu cara mengumpulkan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya. Informasi ini digunakan dalam proses membuat keputusan klinik untuk menentukan diagnosis dan mengembangkan rencana asuhan yang sesuai  (Indrayani &  Djami, 2016).


B.     Prinsip Anamnesa/ Pengkajian Riwayat Kesehatan
1.  Perkenalkan diri anda sendiri dan jelaskan apa yang anda lakukan dan tujuan anda melakukannya.
2.         Observasi peraturan dalam wawancara:
a.         Gunakan pertanyaan terbuka, bukan pertanyaan tertutup.
b.        Anjurkan hanya satu pertanyaan dalam satu waktu
c.       Hindari mengarahkan pertanyaan atau mengajukan pertanyaan yang “berisi jawaban yang dapat diulang oleh wanita tersebut”
d.        Klarifikasi arti prilaku wanita bagi wanita tersebut
e.         Gunakan istilah yang mengerti wanita tersebut
3.  Bersikaplah bijaksana dan menghargai hak-hak wanita untu mempertahankan privasi tentang pribadi dan kehidupannya setiap waktu.
4.     Dengarkan wanita tersebut dengan penuh perhatian dan penghargaan dan tanggapi apapun yang ia katakan. Sebagi contoh, jika ia bicarakan masa-masa sulit dalam kehidupanya, maka respon yang memperlihatkan rasa simpatik akan merupakan tindakan yang tepat.
5.      Bersikap responsif ketika meminta klarifikasi tentang suatu informasi.
6.      Upayakan tepat, seksama, dan akurat dalam mendapatkan semua data yang penting.
7.    Pada saat mengkaji riwayat, pertahankan konsetrasi terfokus sehingga tidak membuang waktu untuk pertanyaan yang tidak perlu.
8.      Lakukan skrining dan tidak perlu mencatat informasi yang relevan.
9.     Beri wanita tersebut kesempatan menjawab pertanyaan hindari menyela kecuali ia mulai memberi jawaban yang tidak sesuai atau ketika anda membutuhkan penjelasan atas jawabanya.
10. Dengarkan wanita tersebut dengan cermat. Kemungkinan ia memberi jawaban yang seharusnya diberikan pada pertanyaan selanjutnya. Dalam hal ini, jangan ulangi pertanyaan tersebut. Upayakan juga untuk tidak membuatnya mengulangi apa yang baru dikatakan hanya karna anda tidak mendengarkan dengan seksama.
11.  Kaji lagi respon yang tidak jelas, informasi yang berhubungan, atau informasi terkait yang tidak langsung yang tidak berkaitan dengan pertanyaan yang baru diajukan.
12.  Pastikan anda mengerti yang dikatakan wanita tersebut. Gaya bicara dan ekspresi wajah seseorang dapat berbeda dari satu daerah dengan daerah yang lainnya. Jangan ragu-ragu meminta tersebut mengeja atau menjelaskan kata-kata yang ia gunakan.
13. Jangan memerlihatkan ekspresi negatif lewat ekspresi wajah, bahasa tubuh, atau penekanan nada bicara.
14.  Sediakan seluas mungkin privasi supaya pembicaraan tidak terdengar orang lain.
15.  Berbicara dengan nada bicara yang jelas, lembut dan tidak terburu-buru.
16.  Pertahanan kontak mata hindari selalu membaca formulir pertanyaan, hindari mencatat, menggambar grafik.
17.  Jangan ajukan pertanyaan sampai anda dapat menjelaskan alasan anda menanyakan hal tersebut. Seorang wanita dapat menganggap informasi yang berkenaan dengan aspek sosial, hubungan seksual, ekonomi, pendidikan, pekerjaan, dan tempat tinggal sebagai hal yang sangat pribadi. Tidak semua informasi yang didapat dari area ini merupakan informasi yang penting. Anda harus mendapatkan informasi hanya bila ada tujuannya karna bila sebaliknya, wanita tersebut dapat menganggap pertanyaan anda mengusik kehidupan pribadinya sehingga ia akan bereaksi terhadap pertanyaan anda ) (Varney, Kriebs, & Gegor, 2007).

C.    Prinsip Komunikasi Efektif dalam Anamnesa pada Ibu Bersalin
1.      Wawancara. Langkah pertama untuk menyusun data dasar adalah dengan wawancarai klien. Wawancara adalah pola komunikasi yang dilakukan umtuk tujuan spesifik. Jenis teknik wawancara seperti :
a.  Teknik mencari masalah. Wawancara mencari masalah mengindentifikasi masalah dan pengumpulan data dan selanjutnya difokuskan pada masalah tersebut. Contoh perawat menanyakan pada klien tentang perubahan yang dialami dalam pencernaan seperti kurang nafsu makan, mual, muntah dan diare.
b. Teknik pemecahan masalah. Difokuskan pada pengumpulan data yang lebih mendalam pada masalah spesifik yang diindentifikasi oelh klien atau perawat. Contoh jika klien melaporkan bahwa muntah telah dialami dalam 2 hari, perawat menanyakan apa pencetus muntah pertama kalinya apakah klien mengalami gejala lain apakah terjadi setiap kali klien makan atau minum dan bagaimana karakteristik muntah.
c. Teknik pertanyaan langsung. Wawancara pertanyaan langsung adalah format terstruktur yang membutuhkan jawaban satu atau dua kata dan sering kali digunakan untuk mengklarifikasi informasi sebelumnya, sebagai contoh “apakah anda mengalami nyeri ketika muntah ?” adalah suatu pertanyaan langsung.
d. Teknik pertanyaan terbuka. Pewancara pertanyan terbuka  ditujukan untuk mendapatkan respon lebih dari satu atau dua kata. Contohnya seperti :
1)      “ perawatan kesehatan apa yang anda butuhkan ?”
2)      “ bagaimana perasaan anda ?
3)      “ceritakan pada saya apa makna kedatangan kerumah sakit bagi anda?
2.  Diam.  Membantu dalam membuat observasi dan memberi klien waktu untuk menyusun pikiran dan memberikan informasi lengkap
3.   Mendengar dengar perhatian berarti minat pada kebutuhan, kekhawatiran, dan masalah klien. Aktifitas mendengar ini dapat difasilitasi dengan mempertahankan kontak mata, tetap rileks, dan menggunakan teknik sentuhan yang tepat.
4. Menunjukkan penerimaan berarti menunjukkan pewawancara untuk mendengar keyakinan, nilai, dan praktik kesehatan tanpa menghakimi.
5.  Pertanyaan yang berkaitan harus direncanakan. Ketika mengajukan pertanyaan ini, perawat menggunakan kata-kata dan pola kata dalam konteks sosial budaya normal klien.
6.    Mem-parafrase. Memberi kesempatan untuk pewawancara memvalidasi informasi dari klien tanpa mengubah makna pernyataan. Paraphrase adalah rumusan pewawancara tentang apa yang telah dikatakan klien dalam kata yang lebih spesifik.
7.      Mengklarifikasi. Memudahkan komunikasi informasi yang kuat benar
8.   Berfokus menghilangkan keraguan dalam komunikasi, membatasi area diskusi, dan membantu pewawancara mengarahkan perhatian pada aspek tertentu dari pesan klien.
9.    Menyertakan observasi memberi klien umpan balik tentang bagaimana pewawancara mengobservasi, tindakan, ekspresi wajah, atau aktifitas.
10. Memberikan informasi memungkinkan pewawancara untuk memperjelas tindakan, memulai penyuluhan kesehatan, dan mengidentifikasi dan memperbaiki kesalahan konsep.
11.Meringkas berarti mencarikan data ke dalam tinjauan yang teratur. Aktifitas ini memvalidasi data pada klien mempunyai kesempatan untuk memastikan bahwa data tersebut benar. Ringkasan mengindikasikan akhir dari bagian wawancara tertentu. (Potter & Perry, 2005).

D.    Mengidentifikasi informasi
1.      Nama. Selain sebagai identitas, upayakan bidan agar memanggil dengan nama panggilan sehingga hubungan komunikasi antara bidan dan pasien menjadi lebih akrab.
2.      Usia/tanggal lahir. Data ini ditanyakan untuk menentukan apakah ibu dalam persalinan berisiko karena usia atau tidak.
3.       Agama. Sebagai dasar bidan dalam memberikan dukungan mental dan spiritual terhadap pasien dan keluarga sebelum dan pada saat persalinan.
4.     Pendidikan terakhir. Tingkat pendidikan ini akan sangat mempengaruhi daya tangkap dan tanggap pasien terhadap instruksi yang diberikan bidan dalam proses persalinan.
5.    Pekerjaan. Data ini menggambarkan tingkat social ekonomi, pola sosialisasi, dan data pendukung dalam menentukan pola komunikasi yang akan dipilih dalam asuhan.
6.    Suku/bangsa. Data ini berhubungan dengan social budaya yang dianut oleh pasien dan keluarga yang berkaitan dengan persalinan.
7.    Alamat. Selain sebagai data mengenai distribusi lokasi pasien, data ini juga memberi gambaran mengenai jarak dan waktu yang ditempuh pasien menuju lokasi persalinan. Ini mungkin berkaitan dengan keluhan terakhir, atau tanda persalinan yang disampaikan dengan patokan saat terakhir sebelum berangkat ke lokasi persalinan (Sulistyawati & Nugraheny, 2010).
8.        Keluhan Umum.
Alasan wanita tersebut mengunjungi anda di klinik, kantor, kamar gawat darurat, pusat pelayanan persalinan, rumah sakit, atau rumahnya, seperti yang diungkapkan dengan kata-katanya sendiri (dapat berhubungan dengan sistem tubuh). (Varney, Kriebs, & Gegor, 2007). Pada kasus persalinan, informasi yang harus didapat dari pasien adalah kapan mulai terasa ada kencang-kencang diperut, bagaimana intensitas dan frekuensinya, apakah ada pengeluaran cairan dari vagina yag berbeda dari air kemih, apakah sudah ada pengeluaran lendir yang disertai darah, serta pergerakan janin untuk memastikan kesejahteraannya (Sulistyawati & Nugraheny, 2010).
9.        Riwayat Penyakit Saat Ini
Jika ada suatu penyakit, perawat mengumpulkan data yang penting dan berkaitan dengan awitan gejala. Perawat menentukan kapan gejala mulai timbul, apakah gejala timbul secara mendadak atau bertahap,  dan apakah gejala selalu timbul atau hilang dan timbul. Perawat juga menanyakan tentang durasi gejala. Pada bagian tentang riwayat penyakit saat ini, perawat mencatatkan informasi spesifik seperti, letak, intensitas, dan kualitas gejala. Sebagai contoh, ketika klien menunjukan adanya nyeri, perawat meminta klien untuk menunjukkan atau menggambarkan area tubuh yang nyeri (Potter & Perry, 2005).
10.    Riwayat Medis Terdahulu dan Perawatan Primer
Informasi yang dikumpul tentang riwayat masa lalu memberikan data tentang pengalaman perawatan kesehatan klien. Perawat mengkaji apakah klien pernah dirawat di rumah sakit atau pernah menjalani operasi. Juga penting dalam merencanakan asuhan keperawatan dalam deskripsi tentang alergi, termasuk reaksi alergi terhadap makanan, obat-obatan, atau polutan. Perawat pimer berfokus pada deteksi dini dan perawatan rutin. Sebagai contoh, pelayanan kesehatan primer terdiri dari pemeriksaan fisik, tahunan, dan perawatan lanjutan yang dilakukan secara rutin untuk klien yang diketahui mempunyai masalah kesehatan seperti tekanan darah tinggi. (Potter & Perry, 2005).
11.    Riwayat Keluarga
Tujuan dari riwayat keluarga adalah untuk mendapatkan data tentang hubungan kekeluargaan langsung dan hubungan darah. Sasarannya adalah untuk menentukan apakah klien berisiko terhadap penyakit yang bersifat genetic atau familial dan untuk mengindentifikasi area tentang promosi kesehatan dan pencegahan penyakit. Riwayat keluarga juga memberikan informasi tentang struktur keluarga, interaksi, dan fungsi yang mungkin berguna dalam merencanakan asuhan (Potter & Perry, 2005).
12.    Riwayat Menstruasi
     Hal yang perlu ditanyakan adalah menarche, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya darah yang keluar, aliran darah yang keluar, menstruasi terakhir, adakah dismenorhoe, gangguan sewaktu menstruasi (Metrorhagia, Menoraghia), gejala premestrual (Sumiaty, 2013).
14.    Riwayat Seksual
Data yang kita perlukan berkaitan dengan aktifitas seksual adalah keluhan, frekuensi, dan kapan terakhir melakukan hubungan seksual (Sulistyawati & Nugraheny, 2010).
15.    Riwayat Obstetri
a.    Gravida/Para (sistem penghitungan empat-atau-lima)
b.    Tipe golongan darah Rh dan ABO
c.    Pada setiap kehamilan (Tanggal kehamilan berakhir, Minggu gestasi, Tempat bersalin misalnya rumah sakit (nama), pusat kelahiran anak (nama), rumah, Lama persalinan) (Varney, Kriebs, & Gegor, 2007).
16.    Riwayat Ginekologi
Pengalaman yang berkaitan dengan penyakit kandungan mencakup: infertilisasi, penyakit kelamin, tumor, atau kanker sistem reproduksi, operasi ginekologis (Sumiaty, 2013).
17.    Riwayat Kontrasepsi
Bila ibu pernah mengikuti KB perlu ditanyakan tentang jenis kontrasepsi, efek samping, alasan berhenti (bila tidak memakai lagi), lamanya menggunakan alat kontrasepsi (Sumiaty, 2013).
18.    Riwayat Aktivitas
Kita perlu mengkaji aktivitas sehari-hari pasien karena data ini memberikan gambaran kita tentang beberapa berat aktivitas yang biasa dilakukan pasien di rumah. Jika di akhir kehamilannya pasien melakukan aktivitas yang terlalu berat dikhawatirkan pasien akan merasa kelelahan sampai akhirnya dapat menimbulkan penyulit pada masa persalinan (Sulistyawati & Nugraheny, 2010).
19.    Riwayat Nutrisi dan eliminasi
Data ini penting untuk diketahui untuk bisa mendapatkan gambaran bagaimana pasien mencukupi asupan gizinya selama hamil sampai dengan masa awal persalinan. Data fokus mengenai asupan makanan adalah sebagai berikut:
a.         Kapan atau jam berapa terakhir kali makan dan minum
b.        Apa yang dimakan dan diminum.
c.         Berapa banyak makanan dan minuman yang dimakan dan diminum.
d.        Seandainya saat ini ingin makan, apa yang ia  inginkan sebelum masuk dalam fase persalinan dimana ia tidak akan mungkin atau tidak ingin lagi untuk makan (Sulistyawati & Nugraheny, 2010).
Selama proses persalinan, ibu akan mengalami poliuri sehingga penting untuk memfasilitasi agar kebutuhan eliminasi dapat terpenuhi. Jika ibu masih beradadalam awal kala I, ambulasi dengan berjalan seperti aktivitas ke toilet akan membantu penurunan kepala janin. jika kondisi ibu tidak memungkinkan untuk BAK dan BAB sendiri di toilet, maka tugas bidan atau keluarga terdekat untuk memfasilitasinya, misalnya menggunakan pispot di tempat tidur (Indrayani & Djami, 2016).

DAFTAR PUSTAKA
1.   Sulistyawati, Ari dan Nugraheny, Esti. 2012. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin. Jakarta : Salemba Medika.
2.     Varney, Helen dan Gegor, Carolyn L. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Edisi 4. Volume  1. Jakarta : EGC
3.      Indrayani dan Djami, Moudy E.U. 2016. Update Asuhan Persalinan dan Bayi Baru Lahir. Jakarta: TIM
4.    Sumiaty. 2013. Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru Lahir. Yogyakarta: Trans Info Media
5.       Potter dan Perry.2005. Konsep, Proses, dan Praktik Keperawatan. Jakarta: ECG.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar