1.
Pengertian Partograf
Partograf dipakai untuk memantau kemajuan
persalinan dan membantu petugas
kesehatan dalam mengambil keputusan dalam penatalaksana. Partograf
dimulai pada pembukaan 4 cm (fase aktif). Partograf sebaiknya dibuat untuk
setiap ibu yang bersalin, tanpa menghiraukan apakah persalinan tersebut normal
atau dengan komplikasi (Saefudin, 2012).
Partograf
adalah bantu untuk memantau kemajuan kala satu persalinan dan informasi untuk
membuat keputusan klinik (JNPK-KR, 2012).
2.
Kegunaan utama partograf adalah :
a. Mengamati
dan mencatat informasi kemajuan persalinan dengan memeriksa dilatasi serviks
saat pemeriksaan dalam.
b. Menentukan
apakah persalinan berjalan normal atau persalinan lama, sehingga bidan dapat
membuat deteksi dini mengenai kemungkinan persalinan lama.
Jika digunakan secara
tepat dan konsistensi, maka partograf akan membantu penolong persalinan untuk
melakukan hal-hal berikut.
a. Mencatat
kemajuan persalinan
b. Mencatat
kondisi ibu dan janinnya
c. Mencatat
asuhan yang diberikan selama persalinan dan kelahiran.
d. Menggunakan
informasi yang tercatat untuk mengidentifikasi secara dini adanya penyulit.
e. Menggunakan
informasi yang ada untuk membuat keputusan klinik yang sesuai dan tepat waktu.
3.
Partograf digunakan harus pada kondisi
sebagai berikut :
a. Semua
ibu dalam fase aktif kala I persalinan, sebagai elemen penting asuhan
persalinan. Partograf harus digunakan, baik dengan atau tempat penyulit.
Partograf akan membantu penolong persalinan dalam memantau, mengevaluasi, dan
membuat keputusan klinik baik persalinan normal maupun yang disertai dengan
penyulit.
b. Selama
persalinan dan kelahiran di semua tempat (rumah, puskesmas, klinik, bidan
swasta, dan rumah sakit).
c. Secara
rutin oleh semua penolong persalinan yang memberikan asuhan kepada ibu selama
persalinan dan kelahiran (spesialis kandungan, bidan, dokter umum, residen, dan
mahasiswa kedokteran).
Penggunaan
partograf secara rutin akan memastikan para ibu dan bayinya mendapatkan asuhan
yang aman dan tepat waktu. Selain itu juga mencegah terjadinya penyulit yang
dapat mengancam keselamatan jiwa mereka. (Rohani, 2011)
4.
Komponen dalam halaman depan partograf
meliputi:
a. Informasi
tentang ibu
b. Kondisi
janin
c. Kemajuan
persalinan
d. Jam
dan waktu
e. Kontraksi
uterus
f. Obat-obat
dan cairan yang diberikan
g. Kondisi
ibu
h. Asuhan
pengamatan dan keputusan klinik lainnya. (Rohani, 2011)
5.
Pencatatan selama fase laten persalinan
Kala I dalam persalinan
dibagi menjadi fase laten dan fase aktif. Yang dibatasi oleh pembukaan serviks.
1.
Fase laten: pembukaan serviks kurang
dari 4 cm
2.
Fase aktif: pembukaan serviks dari 4
sampai 10 cm
Selama
fase laten persalinan, semua asuhan, pengamatan, dan pemeriksaan harus dicatat.
Hal ini dapat direkam secara terpisah dalam catatan kemajuan persalinan atau
pada kartu menuju sehat ibu hamil.
Kondisi
ibu dan bayi juga harus dinilai dan dicatat secara seksama, yaitu sebagai
berikut.
a.
Denyut jantung janin (DJJ) diperiksa
setiap 1/2 jam.
b.
Frekuensi dan lamanya kontraksi uterus
diperiksa setiap 1/2 jam.
c.
Nadi diperiksa setiap 1/2
jam.
d.
Pembukaan serviks diperiksa setiap 4
jam.
e.
Penurunan diperiksa setiap 4 jam.
f.
Tekanan darah dan temperatur tubuh
diperiksa setiap 4 jam.
g.
Prouksi urine, aseton, dan protein
diperiksa setiap 2 sampai 4 jam.
6.
Pencatatan Selama Fase Aktif Persalinan
meliputi:
1) Informasi
tentang ibu
Lengkapi bagian awal
(atas) partograf secara teliti pada saat memulai asuhan persalinan. Catat waktu
kedatangan (tertulis sebagai “jam” pada partograf) dan perhatikan kemungkinan
ibu datang dalam fase laten persalinan. Catat waktu terjadinya pecah ketuban.
2) Keselamatan
dan kenyamanan janin.
a. Denyut
jantung janin (DJJ).
Denyut jantung janin
dicatat setiap 30 menit, kisaran normal DJJ terpapar pada partograf di antara
garis tebal angka120-160x/menit.
b. Warna
dan air ketuban.
Nilai air ketuban
setiap kali dilakukan pemeriksaan dalam dan nilai warna air ketuban jika
selaput ketuban pecah. Catat temuan-temuan di dalam kotak yang sesuai di bawah
lajur DJJ. Gunakan lambang-lambang berikut:
U : ketuban utuh (belum
pecah)
J : ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih
M : ketuban sudah pecah
dan air ketuban bercampur mekonium.
D : ketuban sudah pecah
dan air ketuban bercampur darah
K
:ketuban sudah pecah dan tidak ada aor ketuban
(kering)
c. Molase
(penyusupan tulang kepala janin)
Penyusupan adalah
indikator penting tentang seberapa jauh kepala bayi dapat menyesuaikan diri
dengan bagian keras panggul ibu. Semakin besar derajat penyusupan atau
tumpang-tindih antar tulang kepala semakin menunjukkan risiko disporporsi
kepala-panggul (cephalo pelvic
disporpotion-CPD). Ketidakmampuan untuk berakomodasi ditunjukkan melalui
derajat penyusupan/molase yang berat sehingga tulang kepala saling menyusup,
sulit dipisahkan. (Indrayani, 2016)
Setiap kali melakukan
pemeriksaan dalam, nilai penyusupan kepala janin. Catat temuan di kotak yang
sesuai di bawah lajur air ketuban, gunakan lambang-lambang berikut:
0 : tulang-tulang kepala janin terpisah,
sutura dengan mudah dapat dipalpasi.
1 : tulang-tulang kepala janin hanya saling
bersentuhan
2 : tulang-tulang kepala janin saling tumpang
tindih, tapi masih dapat dipisahkan.
3 : tulang-tulang janin tumpang tindih dan
tidak dapat dipisahkan. (JNPK-KR, 2012)
3) Kemajuan
persalinan.
a. Pembukaan
serviks.
Nilai dan catat
pembukaan serviks setiap 4 jam, beri tanda-tanda untuk temuan dan pemeriksaan
dalam yang dilakukan pertama kali selama fase aktif persalinan di garis
waspada.
b. Penurunan
bagian terbawah atau presentasi janin.
Setiap kali melakukan
pemeriksaan dalam (setiap 4 jam), diberi tanda “O” pada garis waktu yang
sesuai.
c. Garis
waspada dan garis bertindak
Garis waspada dimulai
pada pembukaan serviks 4 cm dan berakhir pada titik diman pembukaan lengkap
diharapkan terjadi jika laju pembukaan 1 cm per jam. Pencatatan selama fase
aktif persalinan harus dimulai di garis waspadai. Garis bertindak tertera
sejajar dengan garis waspada, dipisahkan oleh 8 kotak atau jalur kesisi kanan.
Jika pembukaan serviks berada di sebelah kanan garis bertindak, maka tindakan
untuk menyelesaikan persalinan harus dilakukan. Ibu harus tiba di tempat
rujukan sebelum garis bertindak terlampaui. (JNPK-KR, 2012).
4) Jam
dan waktu
a. Waktu
mulainya fase aktif persalinan.
Dibagian bawah partograf (pembukaan serviks dan
penurunan) tertera kotak yang diberi angka 1-16. Setiap kotak menyatakan waktu
satu jam sejak dimulainya fase aktif persalinan.
b. Waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan
Di
bawah lajur kotak untuk waktu mulainya fase aktif, tertera kotak-kotak untuk
mencatat waktu aktual saat pemeriksaan yang dilakukan. Setiap kotak menyatakan
satu jam penuh dan berkaitan dengan dua kotak waktu 30 menit yang berhubungan
dengan lajur untuk pencatatan pembukaan serviks. DJJ di bagian atas dan lajur
kontraksi dan nadi ibu dibagian bawah. Saat ibu masuk fase aktif persalinan,
cantumkan pembukaan serviks di garis waspada. (Indrayani, 2016)
5) Kontraksi
uterus
Di bawah lajur waktu
partograf terdapat lima jalur dengan tulisan “kontraksi per 10 menit” di
sebelah luar kolom paling kiri. Setiap kotak menyatakan satu kontraksi. Setiap
30 menit, raba dan catat jumlah kontraksi dalam 10 menit dan lamanya kontraksi
dalam satuan detik, nyatakan lamanya kontraksi dengan:
kontraksi yang lamanya 20–40 detik.
kontraksi yag lebih dari 40 detik.
6)
Obat-obatan yang diberikan
a.
Oksitosin.
Jika
tetesan (drip) oksitosin sudah dimulai, dokumentasikan jumlah unit oksitosin
yang diberikan per volume cairan IV dan dalam satuan tetesan per menit setiap
30 menit.
b.
Obat-obatan lain dan cairan IV
Catat
semua pemberian obat-obatan tambahan dan atau cairan IV dalam kotak yang sesuai
dengan kolom waktunya. (JNPK-KR, 2012).
7)
Kesehatan dan kenyaman ibu.
a.
Nadi, nadi ibu dicatat setiap 30 menit.
b.
Tekanan darah, tekanan darah ibu dicatat
setiap 4 jam.
c.
Suhu, temperatur tubuh ibu dicatat
setiap 2 jam.
d.
Volume urine, protein dan aseton. Ukur
dan catat jumlah produksi urine ibu sedikitnya setiap 2 jam (setiap kali ibu
berkemih).
7.
Pencatatan pada lembar belakang
partograf
Halaman
belakang partograf merupakan bagian untuk mencatat hal-hal yang terjadi selama
proses persalinan dan kelahiran, serta tindakan-tindakan yang dilakukan sejak
persalinan kala I-IV (termasuk bayi baru lahir), itulah sebabnya bagian ini
disebut sebagai catatan persalinan. Nilai dan catatkan asuhan yang diberikan
pada ibu dalam masa nifas terutama selama persalinan kala IV untuk memungkinkan
penolong persalinan mencegah terjadinya penyulit dan membuat keputusan klinik
yang sesuai. Dokumentsi ini sangat penting untuk membuat keputusan klinik,
terutama pada pemantauan kala IV (mencegah terjadinya perdarahan
pascapersalinan). Selain itu, catatan persalinan ( yang sudah diisi dengan
lengkap dan tepat) dapat pula digunakan untuk menilai/memantau sejauh mana
telah dilakukan pelaksanaan asuhan persalinan yang bersih dan aman. (Rohani,
2011)
Daftar Pustaka
Indraya
dan Djami, Moudy E. U. 2016. Update Asuhan Persalinan dan Bayi Baru Lahir.
Jakarta : TIM
JNPK-KR.
2012. Pelatihan Klinik Asuhan Persalinan
Normal. Jakarta : Jaringan Nasional Latihan Klinik
Rohani, dkk. 2011. Asuhan kebidanan pada
masa persalinan. Jakarta. Salemba Medika.
Saifudin, Abdul Bari.2012. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal.Jakarta : YBPSP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar