A.
Pendahuluan
Obat dapat didefinisikan sebagai bahan
yang menyebabkan perubahan dalam fungsi biologis melalui proses kimia (Katzung,
2001). Obat dapat berbentuk padat dalam suhu ruang (misalnya: aspirin,
atropine), cair (misalnya: etanil), atau bentuk gas (misalnya: nitrous oxide)
(Margono dan Retnaningsih, 2013).
Pentingnya bidan untuk mempelajari
farmakologi agar dapat memahami tentang efek dari obat yang diharapkan sehingga
mampu mengevaluasi efek pengobatan. Obat adalah suatu substansi atau bahan yang
digunakan untuk mendiagnosa, menyembuhkan, mengatasi membebaskan suatu penyakit
untuk mendapatkan efek terafeutik namun bisa salah dapat mengakibatkan alergi
dan shock bahkan kematian oleh karena itu sebagai tenaga kesehatan harus
mengetahui betul hal – hal yang berhubungan dengan pemberian obat dan teknik
pemberian obat (Walyani, 2014).
B.
Pengertian
Pemberian Obat
Obat merupakan sebuah substansi yang diberikan
kepada manusia atau binatang sebagai perawatan atau pengobatan bahkan
pencegahan terhadap berbagai gangguan yang terjadi di dalam tubuh. Dalam
pelaksanaanya, tenaga medis memiliki tanggung jawab dalam keamanan obat dan
pemberian secara langsung ke pasien. Hal ini semata – mata untuk memenuhi
kebutuhan pasien. (Walyani, 2014).
Pemberian obat kepada pasien dapat dilakukan melalui
beberapa cara diantaranya: oral, parenteral, rektal, vaginal, kulit, mata,
telinga dan hidung (Uliyah dan Hidayat, 2008).
C.
Konsep
Dasar
1. Persiapan
pemberian obat
Prinsip pemberian obat
menurut Joyce 1996 menyebutkan prinsip enam benar yaitu:
a. Klien
yang benar
b. Obat
yang benar
c. Dosis
yang benar
d. Waktu
yang benar
e. Rute
pemberian yang benar
f. Dokumentasi
yang benar
2. Perhitungan
dosis obat
a. Dosis
Terapi
Yaitu dosis yang mampu
member efek penyembuhan
b. Dosis
Maksimum.
Yaitu dosis yang
apabila dilampaui kemungkinan dapat memberi efek toksis atau mematikan (letal).
c. Dosis
Letalis
Yaitu dosis yang bila
diberikan pada pengobatan dapat menimbulkan kematian (Margono dan Retnaningsih,
2013).
D.
Tekhnik
Pemberian Obat
1.
Pemberian
Obat Melalui Oral
Pemberian
obat melalui mulut dilakukan dengan tujuan mencegah, mengobati dan mengurangi
rasa sakit sesuai efek terapi dari jenis obat. (Margono, 2013).
Pemberian
obat per oral adalah cara yang paling banyak dipakai kerena ini merupakan cara
yang paling mujrah, aman, dan nyaman bagi pasien. Obat dapat juga diabsorpsi
melalui rongga mulut (sublingual atau bukal) seperti tablet ISDN. (Walyani,
2014).
Tekhnik pemberian obat per oral
Peralatan
1. Kartu
obat, Kardex, atau formulir pencatat
2. Cart
atau tray obat
3. Cangkir
obat sekali pakai
4. Segelas
air atau sari buah
5. Sedotan
untuk minum
Langkah – langkah
1. Kaji
setiap kontra indikasi untuk pemberian obat oral, termasuk kesulitan dalam
menelan, mual, muntah, inflamasi usus atau penurunan peristaltik, operasi
gastrointestinal terakhir, atau penurunan atau tidak terdengar bising usus, dan
suksion lambung. Dapatkan riwayat tentang alergi, riwayat pengobatan, riwayat
diit, dan instruksi puasa (NPO).
2. Tentukan
kesukaan dan teloransi klien terhadap cairan untuk diminum dengan obat –
obatan.
3. Kumpulkan
peralatan yang di sebutkan pada halaman sebelumnya.
4. Periksa
keakuratan dan kelengkapan kartu obat, bentuk, atau pint-out dengan pesanan
tertulis dari dokter, perhatikan nama klien, nama dan dosis obat, cara dan
waktu pemberian.
5. Cuci
tangan
6. Atur
trai obat – obatan dan cangkir di ruang obat atau pindahkan kartu obat untuk
ditempatkan diluar ruangan klien.
7. Siapkan
obat – obatan untuk satu pasien pada satu kesempatan. Simpen tiket dan formulir
obat – obatan untuk masing – masing pasien.
8. Pilih
obat yang tepat dari laci stok atau dosis unit dan bandingkan dengan kartu atau
formulir obat.
9. Hitung
dosis yang tepat. Luangkan waktu. Periksa ulang hasil perhitungan.
10. Untuk
memberikan tablet atau kapsul dari botol, tuangkan jumlah yang dibutuhkan
kedalam tutup botol dan pindahlan ke cangkir obat.
11. Untuk
menyiapkan dosis unit tablet atau kapsul, letakkan kapsul atau tablet yang
telah dikemas ke dalam cangkir obat. Jangan lepaskan pembungkusnya.
12. Semua
tablet atau kapsul yang akan diberikan pada klien pada saat yang bersamaan
diletakkan dalam satu cangkir kecuali yang pemberiannya membutuhkan pengkajian
sebelumnya seperti tekanan darah dan frekuansi nadi.
13. Jika
kliien mempunyai kesulitan menelan, haluskan tablet sampai didapat bentuk
bubuk. Campur dalam makanan ringan.
14. Untuk
menuangkan obat dalam bentuk cair, buka penutupya dan letakkan pada posisi
terbalik.
a. Pegang
botol dengan label ditelapak tangan ketika menuangkan.
b. Pegang
cangkir obat setinggi mata dan isi sampai batas yang diinginkan. Skala harus
sama dengan cairan pada dasar miniskus.
15. Letakkan
obat, kartu, formulir atau instruksi pemberian bersamaan di atas trai.
16. Bawa
obat pada klien pada waktu yang tepat.
17. Indentifikasi
kliien dengan membendingkan nama pada kartu, formulir, atau instruksi tertulis
dengan nama pada pita identifikasi klien. Minta klien untuk menyebutkan
namanya.
18. Lakukan
semua pengkajian prapemberian yang diperlukan.
19. Jelaskan
tujuan obat dan aksinya pada klien.
20. Bantu
klien untuk duduk atau posisi miring.
21. Berikan
obat dengan tepat. Tawarkan klien pilihan air atau sari buah dengan obat yang
akan diminum. Klien mungkin berkeinginan untuk memegang obat padat ditangan
atau cangkir obat sebelum meminumnya.
22. Jika
klien tidak mampu memegang obat, letakkan dengan perlahan obat di bibibrnya dan
dengan perlahan masukkan kedalam mulutnya.
23. Jika
tablet atau kapsul jatuh ke lantai, buang dan ulangi persiapan dari awal.
24. Tetap
bersama klien sampai ia telah selesai menelan setiap obat yang didapatnya. Jika
merasa tidak pasti apakah obat telah ditelan, minta klien untuk membuka
mulutnya.
25. Cuci
tangan.
26. Catat
setiap obat yang telah diberikan pada catatan obat.
27. Kembalikan
kartu formulir atau instruksi tertulis pemberian obat ke file yang tepat untuk
waktu pemberian berikutnya.
28. Buang
perlatan yang telah digunakan, isi ulang stok (misalnya cangkir dan sedotan),
dan bersihkan tempat kerja.
29. Kembali
30 menit untuk mengevaluasi respons klien terhadap obat (Potter, 1995).
2.
Tekhnik
Pemberian Obat Sublingual
Sublingual adalah pemberian yang
ditempatkan di bawah lidah. Dimana obat itu menjadi larut, dalam waktu yang
relative singkat akan diabsorpsi oleh pembuluh darah yang ada dibawah lidah. Dirancang
supaya, setelah diletakkan dibawah lidah dan kemudian larut, mudah diabsorpsi.
Obat yang diberikan dibawah lidah tidak boleh ditelan. Klien tidak boleh minum
sampai seluruh obat larut. Area pemberian obat melalui sublingual yang
ditujukan untuk menurunkan cairan lambung dan hati yang pengobatannya melalui
darah sebagai organ target (Maryunani, 2011).
Prosedur Pelaksanaan
Secara umum, persiapan dan langkah
pemberian obat sublingual sama dengan pemberian obat secara oral. Hal ini yang
perlu diperhatikan adalah klien perlu diberi penjelasan untuk meletakkan obat
dibawah lidah dan membiarkanya tetap dibawah lidah hingga obat habis diabsorpsi.
Obat tidak boleh ditelan (Kusyati, dkk, 2013).
3.
Pemberian
Obat Pada Mata
Pemberian obat pada mata dengan obat
tetes mata atau salep mata digunakan
untuk persiapan pemeriksaan struktur internal mata dengan mendilatasi pupil
pengukuran refleksi lensa dengan melemahkan otot lensa, serta penghilangan
iritasi mata (Walyani, 2014). Tekhnik pemberian obat pada mata yaitu :
a. Peralatan
dan Perlengkapan
1. Obat
mata ( Tetes atau Salep )
2. Kapas
Kering Steril/Tissue
3. Kapas
Basah (Normal Saline) steril.
4. Kapas/Penutup
mata dan plester.
5. Sarung
tangan steril
6. Bengkok
7. Waskom
berisi larutan klorin 0,5%
b.
Prosedur Pelaksanaan
1.
Periksa dan yakinkan
tentang adanya order pengobatan.
2.
Siapkan Peralatan
tindakan secara ergonomis.
3.
Beritahu Pasien
tindakan yang akan dilakukan.
4.
Atur posisi pasien
kepala tengadah,miringkan,kepala kearah mata yang sakit.
5.
Cuci tangan dengan
sabun dan air mengalir,keringkan dengan handuk bersih.
6.
Pakai sarung Tangan
Steril.
7.
Kaji Mata Pasien (
amati gangguan pada mata ).
8. Bersihkan
kelopak mata dan bulu mata dengan kapas yang dibasahi cairan steril dengan arah
dari kantus dalam menuju kantus luar.
9. Ulangi
hingga bersih.
10. Anjurkan
pasien untuk melihat keatas.
11. Buka
mata dengan cara menarik kelopak mata bawah dengan jempol atau jari-jari tangan
yang tidak memegang obat.
12. Pegang
obat tetes atau salep dengan tangan satunya.
13. Dekatkan
ke mata sampai jarak 1-2cm lalu teteskan obat sesuai kebutuhan pada konjungtiva
bawah 1/3 dari luar.
14. Bila
obat berupa salep,pegang pipa salep diatas kantung konjungtiva atas dan oleskan
sekitar 3cm salep dari kantus ke luar.
15. Anjurkan
Pasien menutup mata tanpa mengusap obat keluar.Untuk obat cair anjurkan menutup mata selama 30 detik dan
menekan hati-hati duktus nasolakrimalis agar obat tidak masuk ke duktus
tersebut.
16. Bersihkan
mata dengan kapas kering dari arah dalam keluar.
17. Tutup
mata denga kassa steril dan plester,bila diperlukan.
18. Kaji
respon pasien.
19. Bereskan
alat dan rapikan pasien.
20. Buka
sarung tangan ,sebelumnya cuci dalam larutan klorin 0,5% dan rendam sarung
tangan dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
21. Cuci
tangan dengan sabun dan air mengalir,keringkan dengan handuk bersih.
22. Dokumentasikan
tindakan yang telah dilakukan (Kusmiyati, 2010).
DAFTAR
PUSTAKA
Hidayat Alimul A.Aziz
dan Uliyah Musrifatul.2008.KDPK.Jakarta: Salemba Medika.
Kusmiyati Yuni.2010.KDPKK.Yogyakarta: Fitramaya.
Kusyati Eni,
dkk.2013.Keterampilan dan Prosedur Laboratorium Keperawatan Dasar.Jakarta: EGC
Margono dan
Retnaningsih Sari Yulianti.2013.KDK2.Yogyakarta: Rohima Press
Maryuyani
Anik.2011.Keterampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan.Jakarta: Trans Info Media.
Potter
Perry.1995.Keterampilan Dan Prosedur Dasar.Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Walyani Siwi
Elisabeth.2015.Keterampilan Dasar Kebidanan 1.Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar