Rabu, 10 Agustus 2016

PENCEGAHAN INFEKSI


A.      Pengertian Pencegahan Infeksi
Pencegahan infeksi merupakan upaya yang dilakukan untuk mencegah risiko penularan atau penyebaran infeksi mikroorgnisme dari lingkungan klien, dan tenaga kesehetan, yang bertujuan untuk mengurangi terjadinya infeksi, dan melindungi klien dan tenaga kesehatan dari risiko penularan. (Uliyah, dkk, 2012).
Pencegahan infeksi adalah bagian esensial dari asuhan lengkap yang diberikan kepada ibu dan bayi baru lahir dan harus dilaksanakan secara rutin pada saat menolong persalinan dan kelahiran, saat memberikan asuhan dasar selama kunjungan antenatal dan pasca persalinan/bayi baru lahir atau saat menatalaksana penyulit. (JNPK-KR, 2012).
B.       Tujuan Pencegahan Infeksi dalam Pelayanan Asuhan Kesehatan
Kesehatan yang baik bergantung sebagian pada lingkungan yang aman. Praktisi atau teknisi yang memantau atau mencegah penularan infeksi membantu melindungi klien dan pekerja perawatan kesehatan dari penyakit. Klien dalam lingkungan perawatan kesehatan berisiko terkena infeksi karena daya tahan yang menurun terhadap mikroorganisme infeksius, meningkatnya pajanan terhadap jumlah dan jenis penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme dan prosedur invasif. Dalam fasilitas perawatan akut ambulatori, klien dapat terpajan pada mikroorganisme baru atau berbeda, yang beberapa dari mikroorganisme tersebut dapat saja resisten terhadap banyak antibiotik. Dengan cara mempraktikan teknik pencegahan dan pengendalian infeksi, perawat dapat menghindarkan menyebaran mikroorganisme terhadap klien. (Potter & Perry, 2005).
Dalam semua lingkungan, klien dan keluarganya harus mampu mengenali sumber infeksi dan mampu melakukan tindakan protektif. Penyuluhan klien harus termasuk informasi mengenai infeksi, cara-cara penularan, dan pencegahan. (Potter & Perry, 2005).
Petugas perawatan kesehatan dapat melindungi diri mereka sendiri dari kontak dengan bahan infeksius atau terpajan pada penyakit menular dengan memiliki pengetahuan tentang proses infeksi dan perlindungan barier yang tepat. Penyakit seperti Hepatitis B, AIDS, dan tuberculosis telah menyebabkan perhatian yang lebih besar pada teknik pengontrolan infeksi. (Potter & Perry, 2005).
Tindakan pencegahan infeksi (PI) tidak terpisah dari komponen-komponen lain dalam asuhan selama persalinan dari kelahiran bayi. Tindakan ini harus diterapkan dalam setiap aspek asuhan untuk melindungi ibu, bayi baru lahir, keluarga, penolong persalinan, dan tenaga kesehatan lainnya dengan jalan menghindarkan transmisi penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus, dan jamur. Juga upaya-upaya untuk menurunkan resiko terjangkit atau terinfeksi mikroorganisme yang menimbulkan penyakit-penyakit berbahaya yang hingga kini belum ditemukan cara pengobatannya, seperti misalnya Hepatitis dan HIV/AIDS. (JNPK-KR, 2012).
C.       Faktor-faktor yang Mempengaruhi Infeksi
Menurut Potter & Perry (2005) adanya patogen tidak berarti bahwa infeksi akan terjadi. Perkembangan infeksi terjadi dalam siklus yang bergantung pada elemen-elemen berikut ini:
1.         Agen infeksius
Adalah mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit (virus, bakteria, jamur, parasit, dll) (Tietjen, dkk, 2004). Kemungkinan bagi mikroorganisme atau parasit untuk menyebabkan penyakit bergantung pada faktor-faktor berikut:
a.         Organisme dalam jumlah yang cukup.
b.        Virulensi, atau kemampuan untuk menyebabkan sakit.
c.         Kemampuan untuk masuk dan bertahan hidup dalam pejamu.
d.        Pejamu yang rentan. (Perry & Potter, 2005)
2.         Tempat atau sumber pertumbuhan pathogen (Reservoar)
Adalah tempat patogen mampu bertahan hidup tetapi dapat atau tidak dapat berkembang biak. Misalnya, Pseudomonas bertahan hidup dan berkembang biak dalam nebulizer yang digunakan dalam perawatan klien dengan gangguan pernapasan. Clostridium botulinum toksin bertahan hidup dalam makanan yang diproses dengan tidak baik (misalnya kacang hijau kaleng) yang menyebabkan botulisme. Bakteri Legionella pneumophila, yang menyebabkan penyakit legionnaire, hidup dalam air dan system pengairan yang terkontaminasi. Untuk berkembang dengan cepat, mikroorganisme memerlingkungan lingkungan yang sesuai, termasuk makanan, oksigen, air, suhu yang tepat, pH dan cahaya. (Potter & Perry, 2005).
3.         Portal keluar dari tempat tumbuh tersebut
Setelah mikroorganisme menemukan tempat untuk tumbuh dan berkembang biak, mereka harus menemukan jalan ke luar jika mereka masuk ke penjamu lain dan menyebabkan penyakit. Mikroorganisme dapat keluar melalui berbagai tempat, seperti kulit dan membran mukosa, traktus respiratorius, traktus urinarius, traktus gastrointestinal, traktus reproduktif dan darah. (Potter & Perry, 2005).
4.         Cara penularan
Ada banyak cara penularan mikroorganisme dari reservoar ke pejamu seperti tabel dibawah ini :
Tabel 1. Bentuk Penularan Mikroorganisme
Rute dan Cara
Contoh Organisme
Kontak
Langsung
Orang ke orang (fekal, oral) atau kontak fisik antara sumber ke pejamu yang rentan (mis. Menyentuh klien
Hepatitis A, Shigella, Staphylococus, Herpes Simpleks
Tidak langsung
Kontak personal penjamu yang rentan dengan benda mati yang terkontaminasi (mis. Jarum atau benda runcing, balutan)
Hepatitis B, Staphylococus, Respiratory syncytial virus (RSV)
Droplet
Partikel besar yang terpercik sampai 3 kali dan kontak yang rentan (mis. Batuk, bersin, atau bicara)
Virus measles, virus influenza, virus rubella
Udara
Droplet nucleus
Residu atau droplet ada di udara (mis. Batuk, bersin) atau dibawa melalui partikel debu
Mycobacterium tuberculosis (TB), Virus varicella zoster (cacar), Aspergillus
Peralatan
Alat-alat yang terkontaminasi
Air, obat larutan, darah
Vibrio cholerae, Pseudomonas, virus Hepatitis C
Makanan
Makanan (daging yang diolah, disimpan atau dimasak dengan tidak tepat)
Salmonella, Escherichia coli, Clostridium botulinum
Vektor
Perpindahan mekanis eksternal
Lalat
Vibrio cholerae
Penularan internal
Seperti kondisi parasitic antara vector dan penjamu seperti:
Nyamuk, kutu, lalat
Plasmodium falciparum (malaria), Rickettsia typhi, Yersinia pestis (plague)
     (Sumber : Potter & Perry, 2005)
5.         Portal masuk ke pejamu
Organisme dapat masuk ke dalam tubuh melalui rute yang sama dengan yang digunakan untuk keluar. Misalnya, pada saat jarum yang terkontaminasi mengenai kulit klien , organisme masuk ke dalam tubuh.  (Potter & Perry, 2005).
6.         Pejamu yang rentan
Seseorang terkena infeksi bergantung pada kerentanan terhadap agen infeksius. Kerentanan bergantung pada derajat ketahanan individu terhadap patogen. Meskipun seseorang secara konstan kontak dengan mikroorganisme dalam jumlah yang besar, infeksi tidak akan terjadi sampai individu rentan terhadap kekuatan dan jumlah mikroorganisme tersebut. Makin virulen suatu organisme, makin besar kemungkinan kerentanan seseorang. (Potter & Perry, 2005).
Infeksi dapat terjadi jika rantai ini tetap berhubungan. Tenaga kesehatan menggunakan kewaspadaan dan pengendalian infeksi untuk memutuskan  rantai tersebut sehingga infeksi tidak terjadi. (Potter & Perry, 2005).

Tubuh memiliki pertahanan normal terhadap infeksi. Flora normal tubuh yang tinggal di dalam dan luar tubuh melindungi seseorang dari beberapa patogen. Setiap system organ memiliki mekanisme pertahanan yang mempertahankan terhadap paparan mikroorganisme infeksius. (Potter & Perry, 2005).
Respon selular tubuh terhadap cedera atau infeksi adalah inflamasi. Inflamasi adalah reaksi protektif vaskuler dengan menghantarkan cairan, produk darah, dan nutrient ke jaringan interstisial ke daerah cedera. Tanda inflamasi termasuk bengkak, kemerahan, panas, nyeri atau nyeri tekan, dan hilangnya fungsi bagian tubuh yang terinflamasi. Bila inflamasi menjadi sistemik, muncul tanda dan gejala lain, termasuk demam, leukositas, malaise, anoreksia, mual, muntah, dan pembesaran kelenjar limfe. (Potter & Perry, 2005).

1.         Meminimalkan infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme.
2.         Menurunkan risiko penularan penyakit yang mengancam jiwa seperti hepatitis dan HIV/AIDS.
Di masa lalu, tujuan utama pencegahan infeksi adalah untuk mencegah infeksi serius pascabedah. Meskipun infeksi serius pascabedan masih merupakan masalah di banyak Negara, munculnya HIV/AIDS dan masalah berkelanjutan akibat hepatitis telah mengubah secara dramatic fokus pencegahan infeksi. Karena HIV dan hepatitis makin sering terjadi, risiko terinfeksi penyakit-penyakit tersebut juga semakin meningkat. (JNPK-KR, 2012).

1.         Percikan darah atau cairan tubuh pada mata, hidung, mulut, atau melalui diskontinuitas permukaan kulit. Misalnya luka atau lecet yang kecil.
2.         Luka tusuk yang disebabkan oleh jarum yang terkontaminasi atau peralatan tajam lainnya, baik pada prosedur dilakukan atau pada saat memproses peralatan.
Memakai sarung tangan, mengenakan perlengkapan pelindung pribadi (kaca mata, masker, celemek, dll) dapat melindungi penolong terhadap kemungkinan terkena percikan, berhati-hati saat menangani benda tajam dan melakukan dekontaminasi serta memproses peralatan yang terkontaminasi secara benar, merupakan cara-cara efektif untuk meminimalkan risiko infeksi, tidak hanya bagi ibu/bayi baru lahir, tapi juga terhadap penolong persalinan dan staf kesehatan lainnya. (JNPK-KR, 2012).

1.         Asepsi atau teknik aseptik adalah istilah umum yang biasa digunakan dalam pelayanan kesehatan. Istilah ini dipakai untuk menggambarkan semua usaha yang dilakukan dalam mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh yang mungkin akan menyebabkan infeksi. Teknik aseptik membuat prosedur lebih aman bagi ibu, bayi baru lahir, dan penolong persalinan dengan cara menurunkan jumlah mikroorganisme pada kulit, jaringan, dan benda-benda mati hingga tingkat yang aman, atau dengan menghilangkannya secara keseluruhan.
2.         Antisepsis mengacu pada pencegahan infeksi dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada kulit atau jaringan tubuh lainnya.
3.         Dekontaminasi adalah tindakan yang dilakukan untuk memastikan bahwa petugas kesehatan dapat menangani secara aman, benda-benda yang terkontaminasi darah dan cairan tubuh. Peralatan medis, sarung tangam dan permukaan (seperti misalnya meja pemeriksaan) harus didekontaminasi segera setelah terpapar darah atau cairan tubuh.
4.         Mencuci dan membilas adalah tindakan-tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua darah, cairan tubuh atau benda asing (misalnya debu, kotoran) dari kulit atau instrumen.
5.         Desinfeksi adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan hampir semua mikroorganisme penyebab penyakit pada benda-benda mati atau instrumen.
6.         Desinfeksi tingkat tinggi (DTT) adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua mikroorganisme kecuali endospora bakteri dengan cara merebus atau secara kimiawi.
7.         Sterilisasi adalah tindakan yang dilakukan menghilangkan semua mikroorganisme (bakteri, jamur, parasit, dan virus) termasuk endospora bakteri pada benda-benda mati atau instrumen. (JNPK-KR, 2012).

H.      Prinsip-Prinsip Pencegahan Infeksi
1.      Setiap orang (ibu, bayi baru lahir penolong persalinan) harus dianggap dapat menularkan penyakit karena infeksi yang terjadi bersifat asimptomatik (tanpa gejala).
2.      Setiap orang harus dianggap beresiko terkena infeksi.
3.      Permukaan tempat pemeriksaan, peralatan dan benda-benda lain yang akan dan telah bersentuhan dengan kulit tak utuh/selaput mukosa atau darah, harus dianggap terkontaminasi sehingga setelah selesai digunakan harus dilakukan proses pencegahan infeksi secara benar.
4.      Jika tidak diketahui apakah permukaan, peralatan atau benda lainnya telah diproses dengan benar, harus dianggap telah terkontaminasi.
5.      Resiko terinfeksi tidak bisa dihilangkan secara total, tapi dapat dikurangi hingga sekecil mungkin  dengan menerapkan tindakan-tindakan pencegahan infeksi yang benar dan konsisten (JNPK-KR, 2012).

Ada berbagai praktek pencegahan infeksi yang membantu mencegah mikroorganisme berpindah dari satu individu ke individu yang lainnya (ibu, bayi baru lahir dan para penolong persalinan), dan menyebarkan infeksi. (JNPK-KR, 2012). Tindakan-tindakan pencegahan infeksi termasuk hal-hal berikut:
Cuci tangan adalah prosedur paling penting dari pencegahan penyebaran infeksi yang menyebabkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir. (JNPK-KR, 2012). Cuci tangan dalam medis dibedakan menjadi beberapa tipe, yaitu:
a.    Cuci tangan medikal (medical hand washing)
b.    Cuci tangan surgical (surgical hand washing)
c.    Cuci tangan operasi (operating theater hand washing) (Susiati, 2008)
Petugas kesehatan harus menerapkan "5 momen kebersihan tangan", yaitu: sebelum menyentuh pasien, sebelum melakukan prosedur kebersihan atau aseptik, setelah berisiko terpajan cairan tubuh, setelah bersentuhan dengan pasien, dan setelah bersentuhan dengan lingkungan pasien, termasuk permukaan atau barang-barang yang tercemar. Kebersihan tangan mencakup : mencuci tangan dengan sabun dan air atau menggunakan antiseptik berbasis alcohol, Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir ketika terlihat kotor, penggunaan Alat Perlindungan Diri (APD) tidak menghilangkan kebutuhan untuk kebersihan tangan. Kebersihan tangan juga diperlukan ketika menggunakan dan terutama ketika melepas APD (Depkes, 2013).
Prosedur tindakan mencuci tangan
1)        Alat dan bahan :
a)      Bak cuci/air mengalir
b)      Handuk atau pengering
c)      Sabun atau antiseptic
d)     Sikat lunak.
2)        Cara kerja :
a)    Lepaskan segala yang melekat pada tangan, seperti aksesoris dan gulung lengan baju sampai siku.
b)   Kaji atau lihat pada tangan dan jari, untuk melihat ada tidaknya luka sayatan.
c)    Jaga agar tangan dan pakaian tidak menyentuh wastafel (jika tangan menyentuh wastafel, cuci tangan ulang).
d)   Alirkan air, hindari percikan pada pakaian.
e)    Basahi tangan dan lengan bawah, pertahankan posisi lebih rendah dari siku sampai berbusa gosok kedua lengan dengan cepat, selama 10-15 detik, punggung tangan, sela-sela jari secara melingkar minimal 5 kali, gosok ujung-ujung jari ke telapak tangan yang lain, kalau perlu disikat dengan sikat lunak.
f)    Bilas lengan dan tangan sampai bersih.
g)   Tutup aliran air dengan siku. Apabila pembuka aliran air (kran) harus ditutup dengan tangan, cuci pembuka aliran (kran) dengan sabun terlebih dahulu sebelum membilas tangan.
h)   Keringkan tangan dengan handuk atau pengering. (Uliyah, dkk, 2012)
Mikroorganisme tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang lembab atau air yang tidak mengalir, oleh karena itu ingat pedoman berikut saat mencuci tangan :
1)        Bila menggunakan sabun batangan gunakan dalam potongan-potongan kecil dan tempatkan sabun dalam wadah yang berlubang-lubang untuk mencegah air menggenangi sabun tersebut
2)        Jangan mencuci tangan dengan jalan mencelupkan ke dalam wadah berisi air meskipun air tersebut sudah ditambah larutan antiseptik. Mikroorganisme dapat bertahan hidup dan berkembang biak dalam larutan tersebut.
3)        Bila tidak tersedia air mengalir:
a)         Gunakan ember tertutup dengan keran yang bisa ditutup pada saat mencuci tangan dan dibuka kembali jika akan membilas.
b)        Gunakan botol yang sudah diberi lubang agar air bisa mengalir.
c)         Minta orang lain menyiramkan air ke tangan, atau
d)        Gunakan pencuci tangan yang mengandung anti mikroba berbahan dasar alcohol (campurkan 100ml 60-90% alcohol dengan 2 ml gliserin. Gunakan  kurang lebih 2 ml dan gosok kedua tangan hingga kering, ulangi tiga kali).
4)        Keringkan tangan dengan handuk bersih dan kering. Jangan menggunakan handuk yang juga digunakan oleh orang lain. Handuk basah atau lembab adalah tempat yang baik untuk mikroorganisme berkembang biak.
5)        Bila tidak ada saluran air untuk membuang air yang sudah digunakan, kumpulkan air di baskom dan buang ke limbah atau jamban di kamar mandi. (JNPK-KR, 2012).
Pakai sarung tangan sebelum menyentuh sesuatu yang basah (kulit tak utuh, selaput mukosa, darah atau cairan tubuh lainnya) atau peralatan, sarung tangan atau sampah yang terkontaminasi. Jika sarung tangan diperlukan, ganti sarung tangan untuk menangani setiap ibu dan bayi baru lahir setelah terjadi kontak langsung untuk menghindari kontaminasi silang atau gunakan sarung tangan yang berbeda untuk situasi yang berbeda pula. (JNPK-KR, 2012).
a.         Gunakan sarung tangan steril atau DTT untuk prosedur apapun yang akan mengakibatkan kontak dengan jaringan dibawah kulit seperti persalinan, penjahitan atau pengambilan darah.
b.        Gunakan sarung tangan periksa yang bersih untuk menangani darah atau cairan tubuh.
c.         Gunakan sarung tangan rumah tangga atau tebal untuk mencuci peralatan, menangani sampah, juga membersihkan darah dan cairan tubuh.
Sarung tangan sekali pakai lebih dianjurkan, tapi jika jumlahnya sangat terbatas, maka sarung tangan bekas pakai dapat diproses ulang dengan dekontaminasi, cuci dan bilas, desinfeksi tingkat tinggi atau sterilisasi. Jika sarung tangan sekali pakai digunakan ulang, jangan diproses lebih dari tiga kali karena mungkin telah terjadi robekan/lubang yang tidak terlihat atau sarung tangan dapat robek pada saat sedang digunakan. (JNPK-KR, 2012).
Perlengkapan pelindung pribadi mencegah pemaparan terhadap infeksi dengan menggunakan penghalang (kaca mata pelindung, masker wajah, sepatu boot atau sepatu tertutup, celemek) selama melaksanakan prosedur klinik. Hal ini dapat melindungi penolong terhadap percikan dan luka terkena benda tajam. Masker wajah dan celemek plastic sederhana dapat dibuang sesuai dengan kebutuhan dan sumber daya yang ada di masing-masing daerah jika perlengkapan sekali pakai tidak tersedia. (JNPK-KR, 2012).
Teknik aseptik membuat prosedur menjadi lebih aman bagi ibu/bayi baru lahir dan penolong persalinan. Teknik aseptik meliputi aspek:
a.         Penggunaan perlengkapan pelindung pribadi
b.        Antisepsis
c.         Menjaga sterilitas/desinfeksi tingkat tinggi. (JNPK-KR, 2012).
Pemrosesan peralatan dan benda-benda lainnya dengan upaya pencegahan infeksi, direkomendasikan untuk melalui tiga langkah pokok yaitu:
a.    Dekontaminasi
Dekontaminasi adalah langkah penting pertama untuk menangani peralatan, perlengkapan, sarung tangan dan benda-benda lain yang terkontaminasi. Dekontaminasi membuat benda-benda lebih aman untuk ditangani dan dibersihkan oleh petugas. Untuk perlindungan lebih jauh, pakai sarung tangan karet yang tebal atau sarung tangan rumah tangga yang terbuat dari bahan lateks jika akan menangani peralatan bekas pakai atau kotor. (JNPK-KR, 2012).
b.    Pencucian dan pembilasan
Pencucian adalah cara paling efektif untuk menghilangkan sebagian besar mikroorganisme pada peralatan/perlengkapan yang kotor atau yang sudah digunakan. Baik sterilisasi maupun desinfeksi tingkat tinggi menjadi kurang efektif tanpa proses pencucian sebelumnya. Jika benda-benda yang terkontaminasi tidak dapat dicuci segera setelah didekontaminasi, bilas peralatan dengan air dengan mencegah korosi dan menghilangkan bahan-bahan organic, lalu cuci dengan seksama secepat mungkin. (JNPK-KR, 2012).
c.    Desinfeksi tingkat tinggi atau sterilisasi. (JNPK-KR, 2012).
Meskipun sterilisasi adalah cara paling efektif untuk membunuh mikroorganisme tetapi proses sterilisasi tidak selalu memungkinkan dan praktis. DTT dapat dilakukan dengan cara merebus, mengukus atau kimiawi. Untuk peralatan, perebusan seringkali menggunakan metode DTT yang paling sederhana dan efisien. (JNPK-KR, 2012).
Benda-benda steril atau desinfeksi tingkat tinggi harus disimpan dalam keadaan kering dan bebas debu. Bungkusan-bungkusan yang tetap kering dan utuh bisa digunakan dalam waktu satu minggu. Peralatan steril yang dibungkus dalam kantong plastik bersegel dan tetap kering serta kemasannya tetap utuh, dapat bertahan dalam waktu satu bulan. Benda-benda desinfeksi tingkat tinggi bisa disimpan di dalam wadah tertutup yang sudah didesinfeksi tingkat tinggi selama satu minggu, asalkan tetap kering dan bebas debu. Jika peralatan-peralatan tersebut tidak digunakan dalam tenggang waktu penyimpanan tersebut maka proses kembali dulu sebelum digunakan. (JNPK-KR, 2012).
Luka tusuk karena peralatan tajam (misalnya jarum) adalah salah satu cara utama terjadinya infeksi HIV dan Hepatitis B di antara para penolong persalinan. Oleh karena itu, perhatikan pedoman berikut:
a.         Letakkan benda-benda tajam di atas baki steril atau desinfeksi tingkat tinggi atau dengan menggunakan ‘daerah aman’ yang sudah ditentukan (daerah khusus untuk meletakkan dan mengambil peralatan tajam)
b.        Hati-hati saat melakukan penjahitan agar tidak tertusuk jarum secara tidak sengaja
c.         Gunakan pemegang jarum dan pinset pada saat menjahit. Jangan pernah meraba jarum atau memegang jarum jahit dengan tangan
d.        Jangan menutup kembali, melengkungkan, mematahkan, atau melepaskan jarum yang akan dibuang
e.         Buang benda-benda tajam dalam wadah tahan bocor dan segel dengan perekat jika sudah dua per tiga penuh. Jangan memindahkan benda-benda tajam tersebut ke wadah yang lain. Wadah benda tajam yang sudah disegel tadi harus dibakar di dalam incinerator
f.         Jika benda-benda tajam tidak bisa dibuang secara aman dengan cara insinerasi, bilas tiga kali dengan larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi, tutup kembali menggunakan teknik satu tangan dan kemudian kuburkan. (JNPK-KR, 2012).
7.      Pengelolaan sampah dan mengatur sanitasi lingkungan.
a.    Pembuangan sampah
b.    Sampah bisa terkontaminasi dan tidak terkontaminasi. Sampah yang tidak terkontaminasi tidak mengandung resiko bagi petugas yang menanganinya. Tapi sebagian besar limbah persalinan dan kelahiran adalah sampah terkontaminasi. Jika tidak dikelola dengan benar, sampah terkontaminasi berpotensi untuk menginfeksi siapapun yang melakukan kontak atau menangani sampah tersebut, termasuk anggota masyarakat. Sampah terkontaminasi termasuk darah, nanah, urin, kotoran manusia, dan benda-benda yang kotor oleh cairan tubuh. Tangani pembuangan sampah dengan hati-hati. 
Aktivitas rumah sakit terdiri dari limbah padat medis dan non medis (R.I. MENKES Keputusan No.1204/Menkes/SK/X/2004), yaitu:
1)   Limbah non medis limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan di luar medis yang berasal dari dapur, kantor, taman, dan halaman yang dapat digunakan lagi jika ada teknologi. Mereka disimpan pada tempat sampah plastik hitam berdinding.
2)   Limbah medis padat adalah limbah padat yang terdiri dari:
a)      Limbah patologis dan limbah infeksius, disimpan dalam tempat sampah medis stainless kuning berdinding.
b)      Limbah farmasi (obat-obatan kadaluarsa), disimpan pada tempat sampah medis plastik coklat berdinding.
3)   Limbah sitotoksik adalah limbah dari sisa layanan obat kemoterapi, disimpan dalam tempat sampah medis plastik ungu berdinding.
4)   Limbah medis tajam seperti kaca pecah, jarum suntik, pipet dan alat kesehatan lainnya, disimpan di safety box/container atau container sampah atau bisa juga bak sampah besar yang tertutup.
5)   Limbah radioaktif adalah limbah yang berasal dari penggunaan medis atau penelitian di laboratorium berkaitan dengan zat radioaktif. Mereka disimpan di tong sampah plastik  merah berdinding.
c.    Tujuan pembuangan sampah secara benar adalah
1)        Mencegah penyebaran infeksi kepada tugas klinik yang menangani sampah dan masyarakat sekitarnya
2)        Melindungi orang-orang yang menangani sampah dari cedera tidak sengaja terhadap benda-benda tajam yang sudah terkontaminasi. (JNPK-KR, 2012).
d.   Mengatur kebersihan dan kerapian
Pembersihan yang teratur dan seksama akan mengurangi mikroorganisme yang ada pada bagian permukaan benda-benda tertentu dan menolong mencegah infeksi dan kecelakaan. (JNPK-KR, 2012).

DAFTAR PUSTAKA
1.   Depkes RI. 2013. Pedoman Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Kasus Konfirmasi Atau Probabel Infeksi Virus Middle East Respiratory Syndrome-Corona Virus. Depkes RI; Jakarta.
2.    JNPK-KR. 2012. Asuhan Persalinan Normal. Jaringan Nasional Pelatihan Klinik – Kesehatan Reproduksi;  Jakarta
3.     Potter, P.A, & Perry, A.G. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik. Edisi 4. Volume 1. EGC; Jakarta
4.      Susiati, Maria. 2008. Keterampilan Keperawatan Dasar. Erlangga Medical Series; Jakarta
5.     Tietjen, Linda, dkk. 2004. Paduan Pencegahan Infeksi untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan Sumber Daya Terbatas. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; Jakarta
6.  Uliyah, Musrifatul, dkk. 2012. Keterampilan Dasar Kebidanan 1; Pendekatan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Health Books Publishing; Surabaya



Tidak ada komentar:

Posting Komentar