Rabu, 01 November 2017

KOMUNIKASI TERAPEUTIK DALAM ASUHAN KEBIDANAN

  1. Pendahuluan
Komunikasi dalam bidang keperawatan dan kebidanan merupakan proses untuk menciptakan hubungan antara perawat /bidan dengan klien dan tenaga kesehatan lainnya untuk mengenal kebutuhan klien dan menentukan rencana tindakan serta kerja sama dalam memenuhi kebutuhan tersebut.
Dalam memberikan asuhan, keterampilan berkomunikasi merupakan critikal skill yang harus dimiliki oleh perawat/bidan, karena komunikasi merupakan proses yang dinamis yang digunakan untuk mengumpulkan data pengkajian, memberikan pendidikan dan informasi kesehatan, mempengaruhi klien untuk mengaplikasikannya dalam hidup, menunjukkan perhatian, memberikan rasa nyaman, menumbuhkan rasa percaya diri dan menghargai nilai-nilai klien.
Di era pesatnya perkembangan ilmu keperawatan dan kebidanan yang berdampak pada perubahan peningkatan kesehatan untuk mencegah masalah legal yang berkaitan dengan proses keperawatan dan kebidanan. Maka sebagai seorang perawat/bidan dituntut untuk mampu melakukan asuhan keperawatan dan kebidanan yang baik salah satunya melalui proses komunikasi yang berdasarkan hubungan saling percaya dengan klien dan keluarganya untuk mendukung upaya penyembuhan klien.

  1. Pengertian
Komunikasi terapeutik berarti suatu proses penyampaian nasehat kepada klien untuk mendukung upaya penyembuhan. Komunikasi terapeutik biasanya dilakukan dengan lisan atau dilakukan dengan gerak. Melalui komunikasi ini, bidan dapat menyampaikan ide dan pikirannya kepada klien, dan kemudian ia dapat mengetahui pikiran dan perasaan klien terhadap penyakit yang diderita dan juga sikap perilaku klien terhadap dirinya sendiri.(1)
Menurut Indrawati (2003), komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang direncanakan secara sadar, memiliki tujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan klien. Komunikasi terapetik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antara perawat/bidan dengan klien. Persoalan yang mendasar dalam komunikasi ini adalah adanya saling membutuhkan antara bidan/ perawat dan klien, perawat membantu dan klien menerima bantuan.(2)  
Komunikasi terapeutik adalah suatu pengalaman bersama antara perawat/bidan dengan klien yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien. Maksud komunikasi adalah untuk mempengaruhi perilaku orang lain.(2)
C.    Tujuan Komunikasi Terapeutik
Menurut Stuart dan Sundeen juga Lindberg, Hunter, dan Kruszweski (dikutip dari Hamid, 1999), tujuan terapeutik yang diarahkan kepada pertumbuhan klien meliputi hal-hal sebagai berikut :
1.      Realisasi diri, penerimssn diri, dan rasa hormat terhadap diri sendiri
2.      Identitas diri yang jelas dan rasa integritas yang tinggi.
3.      Kemampuan membina hubungan interpesonal yang intim, saling tergantung dan mencintai.
4.      Peningkatan fungsi dan kemampuan memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan personal yang realistis.(3)
D.     Manfaat Komunikasi Terapeutik
Manfaat komunikasi terapetik adalah untuk mendorong dan mengajarkan kerja sama antara perawat/ bidan dan klien. Perawat/ bidan mengungkapkan perasaan, mengidentifikasikan dan mengkaji masalah serta mengevaluasi tindakan yang di lakukan dalam perawatan.(4)
Proses komunikasi yang baik dapat memberikan pengertian tingkah laku klien dan membantu klien untuk mengatasi persoalan yang dihadapi pada tahap perawatan, sedangkan pada tahap preventip kegunaanya dalah mencegah adanya tindakan yang negatif terhadap pertahanan diri klien.
E.    Perbedaan Komunikasi Terapeutik dengan Komunikasi Sosial
Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang terjadi antara bidan/perawat dengan klien. Komunikasi ini umumnya lebih akrab karena mempunyai tujuan, berfokus kepada klien yang membutuhkan bantuanPerawat/ bidan secara aktif mendengarkan dan memberi respon kepada klien dengan cara menunjukan sikap mau menerima dan mau memahami sehingga dapat mendorong klien untuk berbicara secara terbuka tentang dirinya, selain itu membantu klien untuk berbicara secara terbuka tentang dirinya. Dan juga membantu klien untuk melihat dan memperhatikan apa yang tidak di sadari sebelumnya.
Sedangkan komunikasi sosial terjadi setiap hari antar orang perorang baik dalam pergaulan maupun lingkungan kerja. Komunikasi ini bersifat dangkal karena tidak mempunyai tujuan, lebih banyak terjadi dalam pekerjaan, aktifitas sosial dan pembicara lebih mengarah kepada kebersamaan dan rasa senang. Komunikasi ini dapat direncanakan tetapi dapat juga tidak direncanakan.
F.   Fase Komunikasi Terapeutik
Untuk meningkatkan efektivitas komunikasi terapeutik, bidan/perawat harus memperhatikan                beberapa fase guna mencapai kesuksesan dalam mengadakan komunikasi terapeutik. Fase-
fase yang dimaksud adalah sebagai berikut :(5)
1.         Fase sebelum interaksi
Sebelum berlangsungnya interaksi, seorang bidan/ perawat harus memiliki data yang lengkap tentang klien. Beberapa data yang dibutuhkan antara lain : nama, alamat, umur, pendidikan, riwayat klien (khususnya riwayat penyakit dan pengobatan yang pernah didapatkan), riwayat sosial dan riwayat keluarga. (2)
2.       Fase pendahuluan
Fase ini merupakan fase orientasi, dan dalam fase ini terdiri dari 3 kegiatan yaitu :
a.         Pembinan dan pemantapan hubungan baik (rapport)
En rapport” mempunyai makna saling memahami dan mengenal tujuan bersama. Tujuannya adalah untuk menjembatani hubungan antara bidan/perawat dengan klien, sikap penerimaan dan minat yang mendalam terhadap klien dan masalahnya. Dalam rapport ini akan tercipta hubungan yang akrab yang ditandai dengan saling mempercayai. Beberapa tehnik untuk mencapai rapport adalah :
a.    Memberikan salam.
b.    Memperkenalkan diri.
c.    Topik pembicaraan yang sesuai.
d.    Menciptakan suasana yang aman dan nyaman.
e.  Sikap yang ditandai : kehangatan emosi, realisasi tujuan bersama, menjamin kerahasiaan, kesadaran terhadap hakekat klien. (6)
b.    Pengumpulan dan pemberian informasi
Merupakan tugas utama konselor. Ini dapat dilakukan dengan cara : mendengar keluhan klien, mengamati komunikasi non verbal klien, bertanya tentang riwayat kesehatan, latar belakang keluarga, latar belakang masalah, memberikan penjelasan tentang masalah yang dihadapi. (6)
3.    Fase Kerja/ Pelaksanaan
Setelah data dari klien diperoleh secara lengkap, maka Bidan membantu klien untuk memecahkan masalahnya atau membuat perencanaan untuk memecahkan masalahnya. Keterampilan memecahkan masalah sangat diperlukan dalam komunikasi konseling. Ada tujuan tahapan yang dapat ditempuh dalam pemecahan masalah :
a.       Menjajagi masalah, yaitu menetapkan masalah yang dihadapi klien.
b.      Memahami masalah, yaitu mempertegas masalah yang sesungguhnya.
c.      Membatasi masalah, yaitu menetapkan batas-batas masalah.
d.  Menjabarkan alternatif, melakukan curah pendapat untuk menjabarkan berbagai kemungkinan alternatif pemecahan masalah.
e.  Mengevaluasi alternatif yaitu menilai setiap alternatif, baik dari segi kekuatan, kelemahan, peluang, sumber daya dan prioritasnya.
f.        Memilih alternatif terbaik yaitu alternatif yang dipandang paling tepat.
g.       Menerapkan alternatif yaitu melaksanakan alternatif. (6)
4.    Fase pengakhiran/terminasi
       Mengakhiri pertemuan konseling, dengan merangkum jalannya dan hasil pembicaraan, merencanakan pertemuan selanjutnya dan merujuk. (6)
G.     Faktor-Faktor Penghambat Komunikasi Terapeutik
Faktor-faktor yang menghambat komunikasi terapeutik adalah perkembangan, persepsi, nilai                latar belakang sosial budaya, emosi, jenis kelamin, pengetahuan, peran dan hubungan,            
lingkungan, jarak, citra diri dan kondisi fisik.(5)

Daftar Pustaka
1.  Dalami E, Dahliar I, Rochimah. Komunikasi dan Konseling dalam Praktik Kebidanan. Jakarta: TIM; 2009.
2.   Purwoastuti TE, Walyani ES. Komunikasi dan Konseling Kebidanan. Yogyakarta: Pustaka Baru Press; 2015.
3.   Yulifah R, Yuswanto TJA. Komunikasi dan Konseling dalam Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika; 2009.
4.    Uripni CL, Sujianto U, Indrawati T. Komunikasi Kebidanan. Jakarta: EGC; 2003.
5.    Kunoli FJ, Herman A. Pengantar Komunikasi Kesehatan. Jakarta: In Media; 2013.
6.    Tyastuti S, Kusmiyati Y, Handayani S. Komunikasi dan Konseling dalam Praktik Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya; 2009.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar