- Pendahuluan
Komunikasi
dalam bidang keperawatan dan kebidanan merupakan proses untuk menciptakan
hubungan antara perawat /bidan dengan klien dan tenaga
kesehatan lainnya untuk mengenal kebutuhan klien dan menentukan
rencana tindakan serta kerja sama dalam memenuhi kebutuhan tersebut.
Dalam
memberikan asuhan, keterampilan
berkomunikasi merupakan critikal skill
yang harus dimiliki oleh perawat/bidan, karena komunikasi merupakan proses yang
dinamis yang digunakan untuk mengumpulkan data pengkajian, memberikan
pendidikan dan informasi kesehatan, mempengaruhi klien untuk mengaplikasikannya
dalam hidup, menunjukkan perhatian, memberikan rasa nyaman, menumbuhkan rasa
percaya diri dan menghargai nilai-nilai klien.
Di era pesatnya
perkembangan ilmu keperawatan dan kebidanan yang berdampak pada perubahan
peningkatan kesehatan untuk mencegah masalah legal yang berkaitan dengan proses
keperawatan dan kebidanan. Maka sebagai seorang perawat/bidan dituntut untuk
mampu melakukan asuhan keperawatan dan kebidanan yang baik salah satunya
melalui proses komunikasi yang berdasarkan hubungan saling percaya dengan klien
dan keluarganya untuk mendukung upaya penyembuhan klien.
- Pengertian
Komunikasi
terapeutik berarti suatu proses penyampaian nasehat kepada klien untuk
mendukung upaya penyembuhan. Komunikasi terapeutik biasanya dilakukan dengan
lisan atau dilakukan dengan gerak. Melalui komunikasi ini, bidan dapat
menyampaikan ide dan pikirannya kepada klien, dan kemudian ia dapat mengetahui
pikiran dan perasaan klien terhadap penyakit yang diderita dan juga sikap
perilaku klien terhadap dirinya sendiri.(1)
Menurut Indrawati (2003),
komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang direncanakan secara sadar, memiliki tujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan klien. Komunikasi
terapetik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan
pengertian antara perawat/bidan
dengan klien. Persoalan yang mendasar dalam komunikasi ini adalah adanya saling membutuhkan antara bidan/ perawat dan klien, perawat membantu dan klien
menerima bantuan.(2)
Komunikasi terapeutik adalah suatu pengalaman bersama antara
perawat/bidan dengan klien yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien.
Maksud komunikasi adalah untuk mempengaruhi perilaku orang lain.(2)
C.
Tujuan Komunikasi Terapeutik
Menurut Stuart dan Sundeen
juga Lindberg, Hunter, dan Kruszweski (dikutip dari Hamid, 1999), tujuan
terapeutik yang diarahkan kepada pertumbuhan klien meliputi hal-hal sebagai
berikut :
1. Realisasi diri, penerimssn diri, dan rasa hormat
terhadap diri sendiri
2. Identitas diri yang jelas dan rasa integritas yang
tinggi.
3. Kemampuan membina hubungan interpesonal yang
intim, saling tergantung dan mencintai.
4. Peningkatan fungsi dan kemampuan memuaskan
kebutuhan serta mencapai tujuan personal yang realistis.(3)
D.
Manfaat Komunikasi Terapeutik
Manfaat komunikasi terapetik adalah untuk
mendorong dan mengajarkan kerja sama antara perawat/ bidan dan klien. Perawat/
bidan mengungkapkan perasaan, mengidentifikasikan dan mengkaji masalah serta
mengevaluasi tindakan yang di lakukan dalam perawatan.(4)
Proses
komunikasi yang baik dapat memberikan pengertian tingkah laku klien dan
membantu klien untuk mengatasi persoalan yang dihadapi pada tahap perawatan,
sedangkan pada tahap preventip kegunaanya dalah mencegah adanya tindakan yang
negatif terhadap pertahanan diri klien.
E.
Perbedaan Komunikasi Terapeutik dengan Komunikasi Sosial
Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang terjadi antara bidan/perawat dengan klien. Komunikasi ini umumnya lebih akrab karena mempunyai tujuan, berfokus kepada klien yang membutuhkan bantuan. Perawat/ bidan secara aktif mendengarkan dan memberi respon kepada klien dengan cara menunjukan sikap mau menerima dan mau memahami sehingga dapat mendorong klien untuk berbicara secara terbuka tentang dirinya, selain itu membantu klien untuk berbicara secara terbuka tentang dirinya. Dan juga membantu klien untuk melihat dan memperhatikan apa yang tidak di sadari sebelumnya.
Sedangkan komunikasi sosial terjadi setiap hari antar orang perorang baik dalam pergaulan maupun lingkungan kerja. Komunikasi ini bersifat dangkal karena tidak mempunyai tujuan, lebih banyak terjadi dalam pekerjaan, aktifitas sosial dan pembicara lebih mengarah kepada kebersamaan dan rasa senang. Komunikasi ini dapat direncanakan tetapi dapat juga tidak direncanakan.
F. Fase Komunikasi Terapeutik
Untuk
meningkatkan efektivitas komunikasi terapeutik, bidan/perawat harus
memperhatikan beberapa fase guna mencapai kesuksesan dalam mengadakan
komunikasi terapeutik. Fase-
fase yang dimaksud adalah sebagai berikut :(5)
1.
Fase
sebelum interaksi
Sebelum berlangsungnya interaksi,
seorang bidan/ perawat harus memiliki data yang lengkap tentang klien. Beberapa
data yang dibutuhkan antara lain : nama, alamat, umur, pendidikan, riwayat
klien (khususnya riwayat penyakit dan pengobatan yang pernah didapatkan),
riwayat sosial dan riwayat keluarga. (2)
2. Fase
pendahuluan
Fase ini merupakan fase orientasi, dan dalam fase ini terdiri dari 3
kegiatan yaitu :
a.
Pembinan
dan pemantapan hubungan baik (rapport)
“En rapport”
mempunyai makna saling memahami dan mengenal tujuan bersama. Tujuannya adalah
untuk menjembatani hubungan antara bidan/perawat dengan klien, sikap penerimaan dan
minat yang mendalam terhadap klien dan masalahnya. Dalam rapport ini akan
tercipta hubungan yang akrab yang ditandai dengan saling mempercayai. Beberapa
tehnik untuk mencapai rapport adalah
:
a. Memberikan salam.
b. Memperkenalkan diri.
c. Topik pembicaraan yang sesuai.
d. Menciptakan suasana yang aman dan nyaman.
e. Sikap yang ditandai : kehangatan emosi, realisasi tujuan bersama, menjamin
kerahasiaan, kesadaran terhadap hakekat klien. (6)
b. Pengumpulan
dan pemberian informasi
Merupakan
tugas utama konselor. Ini dapat dilakukan dengan cara : mendengar keluhan
klien, mengamati komunikasi non verbal klien, bertanya tentang riwayat
kesehatan, latar belakang keluarga, latar belakang masalah, memberikan
penjelasan tentang masalah yang dihadapi. (6)
3.
Fase Kerja/
Pelaksanaan
Setelah data dari klien diperoleh secara lengkap, maka Bidan membantu
klien untuk memecahkan masalahnya atau membuat perencanaan untuk memecahkan
masalahnya. Keterampilan memecahkan masalah sangat diperlukan dalam komunikasi
konseling. Ada tujuan tahapan yang dapat ditempuh dalam pemecahan masalah :
a. Menjajagi masalah, yaitu menetapkan masalah yang dihadapi klien.
b. Memahami masalah, yaitu mempertegas masalah yang sesungguhnya.
c. Membatasi masalah, yaitu menetapkan batas-batas masalah.
d. Menjabarkan alternatif, melakukan curah pendapat untuk menjabarkan
berbagai kemungkinan alternatif pemecahan masalah.
e. Mengevaluasi alternatif yaitu menilai setiap alternatif, baik dari
segi kekuatan, kelemahan, peluang, sumber daya dan prioritasnya.
f. Memilih alternatif terbaik yaitu alternatif yang dipandang paling
tepat.
g. Menerapkan alternatif yaitu melaksanakan alternatif. (6)
4. Fase
pengakhiran/terminasi
Mengakhiri pertemuan konseling, dengan merangkum jalannya dan hasil
pembicaraan, merencanakan pertemuan selanjutnya dan merujuk. (6)
G. Faktor-Faktor
Penghambat Komunikasi Terapeutik
Faktor-faktor
yang menghambat komunikasi terapeutik adalah perkembangan, persepsi, nilai latar belakang sosial budaya, emosi, jenis kelamin, pengetahuan, peran dan
hubungan,
lingkungan, jarak, citra diri dan kondisi fisik.(5)
Daftar Pustaka
1. Dalami
E, Dahliar I, Rochimah. Komunikasi dan Konseling dalam Praktik Kebidanan. Jakarta:
TIM; 2009.
2. Purwoastuti TE, Walyani ES. Komunikasi dan
Konseling Kebidanan. Yogyakarta: Pustaka Baru Press; 2015.
3. Yulifah R, Yuswanto TJA. Komunikasi dan
Konseling dalam Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika; 2009.
4. Uripni CL, Sujianto U, Indrawati T.
Komunikasi Kebidanan. Jakarta: EGC; 2003.
5. Kunoli FJ, Herman A. Pengantar Komunikasi
Kesehatan. Jakarta: In Media; 2013.
6. Tyastuti S, Kusmiyati Y, Handayani S.
Komunikasi dan Konseling dalam Praktik Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya; 2009.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar